Dilema datang ketika seseorang dihadapi oleh sebuah pilihan.
Pilihan akan apa yang terpenting dan terbaik yang harus dilakukan.
Apapun yang akan dilakukan, apapun yang telah menjadi keputusan tentu akan membuahkan sekisah ragu.
Keraguan akan penyesalan yang kelak ditimbulkan oleh semua hal baik yang telah seperempat jalan dilakukan.
Bingungkah?
Wanita ini berusia 19 tahun, ia sedang berjalan selangkah demi selangkah, perlahan, mengejar apa yang ia impikan, pasti. Langkahnya yang kecil memperlihatkan sedikit kerapuhan yang ia miliki, ya, ia bukanlah wanita yang kuat. Ia sering menangis, mengeluh atau bahkan bingung tak tentu arah. Ia sering dihadapkan dengan dilema. Dilema akan percintaan, dilema akan persahabatan dan dilema akan cita-cita yang ingin ia capai.
Cita-cita, Dulu ia berpikir bahwa tempat dimana ia menuntut ilmu saat inilah satu-satunya tempat yang dapat mendekatkannya dengan apa yang telah ia cita-citakan. Tetapi, ketika tempat tersebut tidaklah membuat ia nyaman, ia bertanya, "Hanya inikah tempat dimana aku bisa menggapai mimpi?" Ketidaknyamanan itu hadir disaat ia jauh dari sandaran hati yang ia miliki, keluarga. Saat ketidaknyamanan terus datang menghampiri, terus menerus ia bisikkan kata-kata indah dalam hatinya, "Ibu, Ayah, Kakak, Adik"
Dilema... karena tempat itu tidaklah membuat ia nyaman, tetapi hanya disanalah tempat dimana ia dapat menggapai mimpinya. Dilema... karena ketidaknyamanan itu seharusnya ia tinggalkan dan berlari ke dalam pelukan keluarga, dan mencari tempat lain untuk tetap meraih mimpinya. Akan tetapi, mampukah ia?
Ketika ia berada di tempat itu, ia merasa banyak moment bahagia yang ia tinggalkan dalam keluarga kecilnya. Ia tidak melihat langkah pertama yang dilakukan Adik laki-lakinya, ia tidak melihat pertama kali Adiknya mengucapkan kata kakak dan ia tidak melihat saat keluarganya tertawa bersama, bahagia.
Mungkin ini salah satu hal yang membuat ia dilema... ingin sekali berkumpul bersama keluarga disaat kemampuan dan tanggung jawab yang ia miliki dipertaruhkan. ingin sekali bertukar cerita bersama keluarga disaat tidak ada yang mau mendengarkannya.
Semua hal ini tidak membuatnya nyaman, bahkan walaupun ia bersama dengan keluarganya, percayalah, akan ada rasa sesal dan rasa bersalah dalam dirinya. Lalu apa yang harus ia lakukan?
December 16, 2011
July 12, 2011
Kamu
Ini hanya masalah waktu.
Waktu yg akan membuat aku, kamu dan dia mengerti.
Ini bukanlah menganai cinta segitiga.
Ini semua mengenai memahami dan mengerti.
Itulah mengapa waktu yg aku, kamu, dan dia butuhkan.
Dia dan kamu menyalahkan aku, tak apa, karena memang akulah yg salah.
Tapi aku tidak berkhianat, aku tidak berbohong.
Terhadap apapun dan kepada siapapun.
Aku hanya mengikuti apa yg aku rasakan ketika aku sedang sendiri saat itu.
Ya, ketika "aku sendirian".
Kamu tahu betul bagaimana aku, tapi kamu tetap tidak mengerti.
Dia? Tentu saja ia baru memahami bagaimana diriku yg hina ini.
Ya... itulah mengapa aku katakan yg kamu, dia dan aku butuhkan adalah waktu.
Kita sudah berdiri di posisi terbaik masing-masing saat ini.
Jangan ada yang saling menyalahkan.
Ini sudah jalannya, inilah takdirnya.
Menerima, ikhlas, memahami, mengerti.
Itu yg aku sedang pelajari saat ini.
Apakah aku menyesal? Mungkin, suatu saat nanti.
Tapi inilah jalan yg ku pilih, inilah keputusan yg telah ku ambil.
Aku harus bertanggung jawab akan apa yg ku pilih.
Kamu yg mengajarkannya kan?
Ketahuilah, dia pun tak ingin kita seperti ini :)
Waktu yg akan membuat aku, kamu dan dia mengerti.
Ini bukanlah menganai cinta segitiga.
Ini semua mengenai memahami dan mengerti.
Itulah mengapa waktu yg aku, kamu, dan dia butuhkan.
Dia dan kamu menyalahkan aku, tak apa, karena memang akulah yg salah.
Tapi aku tidak berkhianat, aku tidak berbohong.
Terhadap apapun dan kepada siapapun.
Aku hanya mengikuti apa yg aku rasakan ketika aku sedang sendiri saat itu.
Ya, ketika "aku sendirian".
Kamu tahu betul bagaimana aku, tapi kamu tetap tidak mengerti.
Dia? Tentu saja ia baru memahami bagaimana diriku yg hina ini.
Ya... itulah mengapa aku katakan yg kamu, dia dan aku butuhkan adalah waktu.
Kita sudah berdiri di posisi terbaik masing-masing saat ini.
Jangan ada yang saling menyalahkan.
Ini sudah jalannya, inilah takdirnya.
Menerima, ikhlas, memahami, mengerti.
Itu yg aku sedang pelajari saat ini.
Apakah aku menyesal? Mungkin, suatu saat nanti.
Tapi inilah jalan yg ku pilih, inilah keputusan yg telah ku ambil.
Aku harus bertanggung jawab akan apa yg ku pilih.
Kamu yg mengajarkannya kan?
Ketahuilah, dia pun tak ingin kita seperti ini :)
April 19, 2011
April 11, 2011
To: You.
April 4, 2011
Happy Birthday Harir Aji :)
Selamat ulang tahun. Selamat ulang tahun
Slamat ulang tahun Harir...
Semoga panjang umur! :-D
Maaf ya aku ga bisa ngasih apa-apa di ulang tahun kamu yang ke 19 ini, bukan jadi yang pertama ngucapin juga, tapi kamu tahu kan kalo aku mungkin orang kedua yang paling bahagia atas ulang tahun mu ini? setelah Ibu sama Bapak tentunya! :)
Doa aku di ulang tahun kamu yang ke 19 ini..
Semoga kamu sukses disana..
Semoga kamu tambah shaleh..
Semoga kamu tambah pinter..
Semoga baiknya kamu nambah-nambah banget..
Semoga kamu ga bandel disana..
Semoga kamu berhasil meraih apa yang kamu mau disana..
semoga kamu dikasih semangat dan kesabaran sama Allah saat menjalani kehidupan disana..
Semoga kamu jadi Insinyur yang baik, manis, dan shaleh..
Semoga kamu bahagia di ulang tahun kamu yang ke 19 ini dan di ulang tahun yang berikutnya..
Dan yang terakhir, semoga kamu cepet pulang yaa jadi kita bisa ketemu dan bisa ngerayain ulang tahun kamu (baca: di traktir) hehe :)
Birthday Boy, Harir Aji Nugroho
With love, Frizka :)
March 16, 2011
Baginya yang terakhir
Tulisan ini berdasarkan pada apa yang saya dan orang-orang terdekat saya alami, tulisan ini juga dapat dikatakan sebagai tulisan dari apa yang mereka alami, dan tulisan ini adalah tulisan untuk mereka yang pernah merasakan Cinta Pertama..
Yang pertama selalu memiliki awalan ter- di setiap awal kata yang kita rasakan, yang terindah, yang termanis, yang tak terlupakan atau bahkan yang termenyakitkan.
Yang pertama memiliki peran tersendiri di hati. Entah bagaimana peran yang ia mainkan. Yang jelas, yang pertama akan selalu ada.
Yang pertama adalah ia yang sampai kapanpun akan kita ingat siapa namanya, ulang tahunnya, atau bagaimana cara kita bertemu dengannya untuk yang pertama kali.
Yang pertama adalah ia yang membuat kita paham akan makna dari kata sakit dan menyayangi.
Yang pertama adalah ia yang memberikan satu titik menuju kedewasaan, dengan tawa dan sakit yang ia berikan.
Yang pertama adalah ia yang tahu bagaimana kita yang dulu, yang tahu bagaimana kita bisa seperti sekarang.
Yang pertama selalu dapat membuat hati merasakan rasa yang sudah susah payah dilupakan.
Yang pertama adalah ia yang dapat dengan mudah membuka kenangan hitam-putih yang sudah tersimpan rapi di hati, yang pertama dapat dengan mudah membuat tawa terkembang lebar, yang pertama yang dapat dengan mudah membuat air mata keluar tanpa tahu apa penyebabnya, yang pertama selalu diceritakan, yang pertama dapat menimbulkan pertengkaran, yang pertama... yang pertama...
Terlalu banyak kata yang dapat menggambarkan ia yang pertama, terlalu banyak definisi yang dapat diberikan mengenai ia yang pertama, selalu saja ada kata yang dapat melukiskan mengenai rasa bagi ia yang pertama. Itu semua penting, rasa bagi yang pertama sangatlah penting, tetapi tidak sepenting bagi ia yang terakhir, bagi ia yang bersama kita sekarang, bagi ia yang kita rasakan kasih dan sayangnya hingga sekarang dan bagi ia yang kita harapkan menjadi yang terakhir.
Kita ingat setiap hal yang berhubungan dengan ia yang pertama, tapi dengan ia yang kita harapkan menjadi yang terakhir, kita tidak sekedar ingat, kita menantikan setiap hal yang berhubungan dengannya, kita merasakan hiforia akan setiap hal yang berhubungan dengan yang kita harapkan akan menjadi yang terakhir.
Yang pertama telah menjadi kenangan hitam-putih, tidak dengan ia yang kita harapkan menjadi yang terakhir, kita masih bisa melihat warna-warna yang ada pada dirinya.
Yang pertama terasa sangat dingin, tidak bagi ia yang kita harapkan menjadi yang terakhir, ia hangat, kehangatannya masih sangat terasa, kasih sayangnya, hangat tubuhnya, hangat tawanya, semua... semua masih sangat terasa.
Katakanlah pada ia yang berada bersama kita sekarang, yang kita harapkan menjadi yang terakhir..
"Hey kamu yang ku harapkan menjadi yang terakhir, tahukah kamu bahwa kamulah yang memliki tempat terluas di sini, kamu yang ku harapkan, kamu adalah pemenangnya, kamu."
Yang pertama selalu memiliki awalan ter- di setiap awal kata yang kita rasakan, yang terindah, yang termanis, yang tak terlupakan atau bahkan yang termenyakitkan.
Yang pertama memiliki peran tersendiri di hati. Entah bagaimana peran yang ia mainkan. Yang jelas, yang pertama akan selalu ada.
Yang pertama adalah ia yang sampai kapanpun akan kita ingat siapa namanya, ulang tahunnya, atau bagaimana cara kita bertemu dengannya untuk yang pertama kali.
Yang pertama adalah ia yang membuat kita paham akan makna dari kata sakit dan menyayangi.
Yang pertama adalah ia yang memberikan satu titik menuju kedewasaan, dengan tawa dan sakit yang ia berikan.
Yang pertama adalah ia yang tahu bagaimana kita yang dulu, yang tahu bagaimana kita bisa seperti sekarang.
Yang pertama selalu dapat membuat hati merasakan rasa yang sudah susah payah dilupakan.
Yang pertama adalah ia yang dapat dengan mudah membuka kenangan hitam-putih yang sudah tersimpan rapi di hati, yang pertama dapat dengan mudah membuat tawa terkembang lebar, yang pertama yang dapat dengan mudah membuat air mata keluar tanpa tahu apa penyebabnya, yang pertama selalu diceritakan, yang pertama dapat menimbulkan pertengkaran, yang pertama... yang pertama...
Terlalu banyak kata yang dapat menggambarkan ia yang pertama, terlalu banyak definisi yang dapat diberikan mengenai ia yang pertama, selalu saja ada kata yang dapat melukiskan mengenai rasa bagi ia yang pertama. Itu semua penting, rasa bagi yang pertama sangatlah penting, tetapi tidak sepenting bagi ia yang terakhir, bagi ia yang bersama kita sekarang, bagi ia yang kita rasakan kasih dan sayangnya hingga sekarang dan bagi ia yang kita harapkan menjadi yang terakhir.
Kita ingat setiap hal yang berhubungan dengan ia yang pertama, tapi dengan ia yang kita harapkan menjadi yang terakhir, kita tidak sekedar ingat, kita menantikan setiap hal yang berhubungan dengannya, kita merasakan hiforia akan setiap hal yang berhubungan dengan yang kita harapkan akan menjadi yang terakhir.
Yang pertama telah menjadi kenangan hitam-putih, tidak dengan ia yang kita harapkan menjadi yang terakhir, kita masih bisa melihat warna-warna yang ada pada dirinya.
Yang pertama terasa sangat dingin, tidak bagi ia yang kita harapkan menjadi yang terakhir, ia hangat, kehangatannya masih sangat terasa, kasih sayangnya, hangat tubuhnya, hangat tawanya, semua... semua masih sangat terasa.
Katakanlah pada ia yang berada bersama kita sekarang, yang kita harapkan menjadi yang terakhir..
"Hey kamu yang ku harapkan menjadi yang terakhir, tahukah kamu bahwa kamulah yang memliki tempat terluas di sini, kamu yang ku harapkan, kamu adalah pemenangnya, kamu."
March 4, 2011
Untuk Manza
Gue punya sebuah hadiah kecil buat sahabat-sahabat gue, Manza. Sebenernya hadiah ini udah lama disimpen sama gue, dan baru sekarang aja bisa ditunjukin ke orang-orang dan kalian, Manza, tentunya lewat blog gue ini. Jadi....... ini dia hadiahnyaaaa!!!
Terereeeeng!
Hahaha ya. itu dia hadiah buat kalian sahabat ku sayang.
Sebentuk kasih sayang dan rasa kangen gue yang gue sampein lewat foto itu. Emang ga bagus sih... tapi unyu kan ya? Huahahaha.
Ah, i really miss you guys. kapan ya bisa ngumpul bareng lagi? Lengkap. Semuanya ada. Ga cuma tiga orang atau empat orang aja. Tapi lima. Karena Manza berlima, kita ada lima...
Besok kalian mau kumpul ya? Kan... Ga lengkap lagi kumpulnya. Selalu kurang. Maaf ya :( Padahal dulu kita soulmate banget ya. Ga pernah kepisah. Kemana-mana selalu berlima. Jadi inget waktu kita di rumah Anas, waktu menjelang perpisahan kita, waktu dimana kita bakal pisah sekolah, waktu dimana kita mengakhiri masa SMP dan mulai dikehidupan baru, di SMA..
Waktu itu kita bareng-bareng nyetel lagu Kisah Klasik - Sheila on7, disana kita nangis bareng-bareng, disana kita berpelukan, disana kita saling ngerangkul dan saling bilang, "Jangan lupain gue ya, jangan lupain Manza, jangan berubah," gue inget banget, saat itu kita ngebuat lingkaran kecil, kita saling rangkulan, air mata kita jatuh bebarengan, dan disaat itu kita takut banget buat pisah, takut kalo nanti kita ga bakal bisa sering-sering kumpul lagi, takut ga ketemu sahabat kaya Manza lagi, dan ternyata itu semua bener, kita ga bisa sering-sering kumpul, kalo kumpul juga ga lengkap dan kita emang ga bisa nemuin sahabat kaya Manza lagi, karena sahabat kaya Manza ga akan ada lagi, dimanapun, mau dicari keliling dunia juga ga akan ada yang kaya kalian Mey Nas Jeng Des :')
Kangen makan mie polos di TB, ih dulu inget banget ya Jeng kalo kita mau nambah mie polos, pasti kita patungan, terus makannya sepiring berdua, unyu ya?
Kangen nongkrong di depan 3a, anak-anak pagi udah pada pulang jam 12, tapi kalo kita masih aja jam 4 di sekolah hihi.
Kangen Pramuka, kangen ngedance bareng, kangen ke kantin 91 yang mungil nan gelap itu, kangen Manza bercanda sama Mamih kantin, kangen Manza (terutama Anas) yang suka minta gratisan sama abang-abang jual makanan, kangen ke atang bareng, kangen jalan berlima berderetan sampe orang-orang ga bisa lewat, kangen nongrong di BP, kangen.. kangen.. kangen..
Kadang suka mikir, kenapa harus ada perpisahan? Kenapa semua yang udah dijalanin bakal jadi kenangan? Kenapa semua yang udah gue jalanin cuma bisa gue inget dalam layar hitam putih?
Ga peduli sama semua itu, yang jelas gue bersyukur banget karena kita sampe sekarang masih deket, masih saling bertukar cerita dan masih saling sayang :)
Terereeeeng!
Hahaha ya. itu dia hadiah buat kalian sahabat ku sayang.
Sebentuk kasih sayang dan rasa kangen gue yang gue sampein lewat foto itu. Emang ga bagus sih... tapi unyu kan ya? Huahahaha.
Ah, i really miss you guys. kapan ya bisa ngumpul bareng lagi? Lengkap. Semuanya ada. Ga cuma tiga orang atau empat orang aja. Tapi lima. Karena Manza berlima, kita ada lima...
Besok kalian mau kumpul ya? Kan... Ga lengkap lagi kumpulnya. Selalu kurang. Maaf ya :( Padahal dulu kita soulmate banget ya. Ga pernah kepisah. Kemana-mana selalu berlima. Jadi inget waktu kita di rumah Anas, waktu menjelang perpisahan kita, waktu dimana kita bakal pisah sekolah, waktu dimana kita mengakhiri masa SMP dan mulai dikehidupan baru, di SMA..
Waktu itu kita bareng-bareng nyetel lagu Kisah Klasik - Sheila on7, disana kita nangis bareng-bareng, disana kita berpelukan, disana kita saling ngerangkul dan saling bilang, "Jangan lupain gue ya, jangan lupain Manza, jangan berubah," gue inget banget, saat itu kita ngebuat lingkaran kecil, kita saling rangkulan, air mata kita jatuh bebarengan, dan disaat itu kita takut banget buat pisah, takut kalo nanti kita ga bakal bisa sering-sering kumpul lagi, takut ga ketemu sahabat kaya Manza lagi, dan ternyata itu semua bener, kita ga bisa sering-sering kumpul, kalo kumpul juga ga lengkap dan kita emang ga bisa nemuin sahabat kaya Manza lagi, karena sahabat kaya Manza ga akan ada lagi, dimanapun, mau dicari keliling dunia juga ga akan ada yang kaya kalian Mey Nas Jeng Des :')
Kangen makan mie polos di TB, ih dulu inget banget ya Jeng kalo kita mau nambah mie polos, pasti kita patungan, terus makannya sepiring berdua, unyu ya?
Kangen nongkrong di depan 3a, anak-anak pagi udah pada pulang jam 12, tapi kalo kita masih aja jam 4 di sekolah hihi.
Kangen Pramuka, kangen ngedance bareng, kangen ke kantin 91 yang mungil nan gelap itu, kangen Manza bercanda sama Mamih kantin, kangen Manza (terutama Anas) yang suka minta gratisan sama abang-abang jual makanan, kangen ke atang bareng, kangen jalan berlima berderetan sampe orang-orang ga bisa lewat, kangen nongrong di BP, kangen.. kangen.. kangen..
Kadang suka mikir, kenapa harus ada perpisahan? Kenapa semua yang udah dijalanin bakal jadi kenangan? Kenapa semua yang udah gue jalanin cuma bisa gue inget dalam layar hitam putih?
Ga peduli sama semua itu, yang jelas gue bersyukur banget karena kita sampe sekarang masih deket, masih saling bertukar cerita dan masih saling sayang :)
Subscribe to:
Posts (Atom)




